Sort Link

Tuesday, February 17, 2015

Acne Attack!!

JERAWAAAATT!!!



masalah klasik yang menimpa para bocah yang beranjak remaja, hampir tidak pernah kita jumpai orang yang melewati masa remaja nya tanpa dihantui masalah jerawat. berdasarkan ilmu biologi kelas teri, jerawat timbul akibat produksi hormon yang terjadi dalam tubuh kita. hal yang lumrah sih menurut saya, walau banyak yang mengatakan jerawat bisa dicegah dengan rajin membersihkan muka. tapi saya yang notaben nya (kala itu) remaja cuek dan malas, maka jerawat pasti akan dengan sangat senang menghinggapi kehidupan saya.

sekitar kelas VII atau kelas 2 SLTP, saya mulai berjumpa dengan jerawat untuk pertama kalinya. tidaklah dalam ukuran besar, tetapi tetap membuat panik ABG labil semacam saya. dalam jumlah yang sangat tidak banyak, 2 butir. sedikit rahasia dari saya, pada saat itu saya panik sekaligus bangga, panik karena merahnya jerawat mengganggu warna kulit gelap saya yang menyebabkan seolah ada warna maroon di wajah saya, bangga karena berarti saya sudah sah menjadi remaja, walau pada saat itu saya juga belum kebagian "mimpi" yang menandakan seorang bocah memasuki Akhil Baligh.

saking noraknya dengan kehadiran jerawat yang tidak seberapa itu, saya sampai melakukan hal yang menurut saya sekarang sangat amat tidak penting atau bisa di singkat "bodoh". saya mencoba menutupi jerawat mungil itu dengan plaster penutup luka, sebut saja Hansaplast atau Handyplast (abaikan ke-typo-an saya). tidak dalam keadaan sempurna tentunya saya tempelkan, karena saya merasa nanti akan menutupi wajah bocah saya yang menggemaskan, justru saya mengguntingnya seukuran lingkaran jerawat dan menempelkennya tepat di atas jerawat yang sedang dalam masa emasnya. saya berani melakukan hal itu karena saya merasa warna plaster luka tersebut seirama dengan warna kulit saya yang coklat-coklat sedikit hangus kala itu karena hampir setiap istirahat jam pelajaran saya bermain bola kaki.

namun, justru hal itu mengundang kontroversi di lingkungan teman saya, mereka justru menertawakan inovasi dan kreasi yang saya lakukan, terutama para penderita jerawat kelas akut, ada beberapa yang mungkin merasa tersinggung karena mereka tidak bisa menirukan inovasi yang saya lakukan, berhubung kuantitas jerawat yang mereka miliki jauh lebih banyak dan lebih rapat, mau berapa banyak mereka menggunting dan menempelkan plaster di muka mereka, bukan tidak mungkin mumi dengan balutan perban dari plaster luka yang bakal muncul ke permukaan.

akhirnya saya menyerah dengan ide brilian yang saya miliki tersebut, dan mencoba menerima keadaan, membiarkan saya dikalahkan oleh jerawat mungil itu, saya merasa sangat kotor, ketika wajah saya diinjak-injak oleh jerawat. dan dikemudian hari saya tidak lagi berjumpa dengan jerawat-jerawat lainnya hingga saya Akhil Baligh nantinya di SLTA tingkat pertama. hingga kini kami (saya dan jerawat) seolah menjadi sahabat karib yang bisa dibilang benci tapi rindu. benci karena merusak penampilan dan rindu karena saya merasa jerawat menandakan adanya gadis-gadis di luar sana yang menaruh hatinya kepada saya (kepede-an tingkat dewa).

saya menyadari betul bahwasanya kebersihan wajah sangat lah mempengaruhi timbulnya jerawat di wajah, tapi apalah daya, pantat saya yang berat ini membuat saya sedikit banyak malas untuk bisa rajin membersihkan wajah jika bukan karena air wudhu dan mandi, mandi aja jarang.