Sort Link

Monday, April 22, 2013

[Repost] Di Balik 21 April

disaat kebanyakan orang dengan akun nya di dunia maya mengucapkan selamat Hari Kartini, atau via media massa elektronik atau cetak banyak ucapan menyambut Hari Kartini, saya kembali teringat dengan sebuah artikel yang pernah saya temukan di forum Kaskus dan kini saya temukan kembali di sebuah akun Facebook. Tentang sejarah bangsa ini, tentang latar belakang semua ini terjadi. dan kali ini saya tidak mau kehilangan sumber ini, jadi saya abadikan via blog pribadi saya ini sebagai catatan pengingat untuk diri sendiri yang dapat dibagikan kepada sobat blog saya...

berikut kutipannya :


Mengapa Harus Kartini?



Mengapa setiap 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Pada dekade 1980-an, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsya W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik pengkultusan R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia. Tahun 1988, masalah ini kembali menghangat, menjelang peringatan hari Kartini 21 April 1988. Ketika itu akan diterbitkan buku Surat-Surat Kartini oleh F.G.P. Jacquet melalui penerbitan Koninklijk Institut voor Tall-Landen Volkenkunde (KITLV).

Tulisan ini bukan untuk menggugat pribadi Kartini. Banyak nilai positif yang bisa kita ambil dari kehidupan seorang Kartini. Tapi, kita bicara tentang Indonesia, sebuah negara yang majemuk. Maka, sangatlah penting untuk mengajak kita berpikir tentang sejarah Indonesia. Sejarah sangatlah penting. Jangan sekali-kali melupakan sejarah, kata Bung Karno. Al-Quran banyak mengungkapkan betapa pentingnya sejarah, demi menatap dan menata masa depan.

Banyak pertanyaan yang bisa diajukan untuk sejarah Indonesia. Mengapa harus Boedi Oetomo, Mengapa bukan Sarekat Islam? Bukankah Sarekat Islam adalah organisasi nasional pertama? Mengapa harus Ki Hajar Dewantoro, Mengapa bukan KH Ahmad Dahlan, untuk menyebut tokoh pendidikan? Mengapa harus dilestarikan ungkapan ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani sebagai jargon pendidikan nasional Indonesia? Bukankah katanya, kita berbahasa satu: Bahasa Indonesia? Tanyalah kepada semua guru dari Sabang sampai Merauke. Berapa orang yang paham makna slogan pendidikan nasional itu? Mengapa tidak diganti, misalnya, dengan ungkapan Iman, Ilmu, dan amal, sehingga semua orang Indonesia paham maknanya.

Kini, kita juga bisa bertanya, Mengapa harus Kartini? Ada baiknya, kita lihat sekilas asal-muasalnya. Kepopuleran Kartini tidak terlepas dari buku yang memuat surat-surat Kartini kepada sahabat-sahabat Eropanya, Door Duisternis tot Licht, yang oleh Armijn Pane diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini diterbitkan semasa era Politik Etis oleh Menteri Pengajaran, Ibadah, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr. J.H. Abendanon tahun 1911. Buku ini dianggap sebagai grand idea yang layak menempatkan Kartini sebagai orang yang sangat berpikiran maju pada zamannya. Kata mereka, saat itu, tidak ada wanita yang berpikiran sekritis dan semaju itu.

Beberapa sejarawan sudah mengajukan bukti bahwa klaim semacam itu tidak tepat. Ada banyak wanita yang hidup sezamannya juga berpikiran sangat maju. Sebut saja Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (terakhir pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita.

Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan Sartika dan Rohana dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang ber inisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Kalau saja ada yang sempat menerbitkan pikiranpikiran Rohana dalam berbagai surat kabar itu, apa yang dipikirkan Rohana jauh lebih hebat dari yang dipikirkan Kartini. Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fa -timah dari Aceh, klaim-klaim ke terbe lakang an kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita.

Di Aceh kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati. Aceh juga pernah dipimpin oleh Sultanah (sultan wanita) selama empat periode (1641-1699). Posisi sulthanah dan panglima jelas bukan posisi rendahan.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus menda -pat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan, begitu kata Rohana Kudus.

Bayangkan, jika sejak dulu anak-anak kita bernyanyi: Ibu kita Cut Nyak Dien. Putri sejati. Putri Indonesia..., mungkin tidak pernah muncul masalah Gerakan Aceh Merdeka. Tapi, kita bukan meratapi sejarah, Ini takdir. Hanya, kita diwajibkan berjuang untuk menyongsong tak dir yang lebih baik di masa depan. Dan itu bisa dimulai dengan bertanya, secara serius: Mengapa Harus Kartini?

Ditulis oleh Tiar Anwar Bachtiar (INSISTS)

Sumber: http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=149&Itemid=6

Saturday, April 20, 2013

Typography : Our 4th Years







Konsep diusung dengan mengambil sampel atau contoh membentuk huruf dari memotong-motong kertas..walau jauh dari kesan itu, hal ini dilakukan untuk memberikan kesan kuat dan menonjol pada tiap character yang disusun rata tengah ini..menambah bayangan pada lekukan-lekukan.

untungnya angka empat punya struktur yang mirip dengan huruf A, kemudian komposisi character dari typo ini sangat mendukung untuk mencari huruf sehingga membentuk kata YEARS.

tidak terlalu ribet, karena memang pada awalnya ingin memberikan kesan kata tersembunyi yang dapat dengan mudah ditemukan di dalamnya dan sederhana...

anyway, happy anniversary for us, dear... :)


Monday, April 15, 2013

Ada dari Ketiadaan

pagi ini saya menemukan bacaan menarik dari status facebook teman saya yang membuat saya tergerak untuk mengangkatnya.. selamat menikmati :

Prof : "Apakah Tuhan menciptakan segala yg ada ?"

Mahasiswa semua : "Betul, Dia yg menciptakan semuanya"
"Tuhan menciptakan semuanya ?" tanya Prof sekali lagi.
"Ya Prof, semuanya," kata mahasswa itu.

Prof : "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan juga menciptakan Kejahatan"

Mahasiswa itu terdiam & kesulitan menjawba hipotesis Prof tersebut. Suasana hening dipecahkan oleh suara mahasiswa lainnya, "Prof, boleh saya bertanya. sesuatu ?"

"Tentu saja," jawab si Prof.
Mahasiswa : "Prof, apakah dingin itu ada ?"

"Pertanyaan macam apa itu ? Tentu saja dingin itu ada"

Mahasiswa itu menyangkal, "Kenyataannya Prof, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yg kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali & semua partikel menjadi diam & tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas"

Mahasiswa itu melanjutkan... "Prof, apakah gelap itu ada ?"

Prof menjwb, "Tentu saja itu ada"

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Prof. Gelap jg tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya jadi beberapa warna & mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut.
Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya"

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Prof, apakah kejahatan itu ada ?"

Dengan bimbang Prof itu menjwb, "Tentu saja !"

Mahasiswa itu menjawab; "Sekali lagi anda salah, Prof. Kejahatan itu Tidak Ada. Kejahatan adalah ketiadaan TUHAN di dalam diri seseorang. Seperti dingin atau gelap, kejahatan adalah kata yg dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan TUHAN di dalam diri. TUHAN tidak menciptakan kejahatan. Kejahatan adalah hasil dari tak adanya TUHAN di hati manusia."

Friday, April 12, 2013

Pagi dan Terlambat yang akut

Sudah lebih dari setahun, terhitung awal bulan Januari di 2012, bermukim di sebuah gedung yang jauh dari rumah tempat mengaduk mimpi, ditambah berada di lantai ketujuh dari sepuluh lantai yang sama sekali tidak ada pengurangan lantai di dalamnya menambah perasaan jauh yang harus ditempuh dari kota seberang. Ya, saya mengatakan daerah Panam sebagai kota yang terpisah dengan jarak tempuh yang sanggup membuat kita berhenti di sebuah lapak untuk sekedar beristirahat dan meneguk air tuk menghilangkan dahaga yang diakibatkan panasnya terik matahari di kota ini.
Sejak setahun yang lalu itu pula saya mengalami permasalahan dengan ketepatan waktu, pukul delapan pagi bagi saya akan selalu terlihat sama dengan pukul 10 dan 11, namun berbeda sangaaaaaaat jauuuuuuh dengan pukul 7. Hal inilah yang salah satunya menjadi penyebab waktu yang tidak tepat dengan jadwal yang seharusnya saya menampakkan wajah di keramaian tempat mencari nafkah.
Seperti pagi di hari ini, sepulangnya kemarin malam pukul setengah 12, bukan..saya bukan nongkrong diluar tapi di kantor, Iya, saya diburu deadline seperti biasa, kemudian kembali pulang, saya baru dapat berhasil terjun ke dunia mimpi selepas pukul setengah 2 di dini hari ini. Seperti yang bisa ditebak orang kebanyakan, setelah menunaikan subuh, saya kembali melanjutkan tepar dalam posisi setengah menjijikkan, masih dengan sarung hijau krsayangan dan baju yang kerahnya mulai tidak akur karena sudah terlalu letih menyerap keringat dari bagian leher saya yang nyatanya tidaklah jenjang, ditambahkan dengan mulut sedikit terbuka, kaki yang tidak saling akur dan berjauhan. Akhirnya tepat pukul 8 pagi saya kembali dari petualangan menaklukkan stadion wembley. Mencoba mengumpulkan puing puing nyawa yang menyebar ke seputaran raga. Yap, lima belas menit kemudian saya siap untuk bercumbu dengan dinginnya air di bak mandi yang tiap pagi selalu saja terasa sanggup membekukan darah panas sekalipun.
Setelah berbenah dan sedikit dandan, saya coba sedikit melirik, ternyata jam tangan KW super ini telah memperlihatkan angka 9 di bagian depan, baiklah..saya siap untuk menggapai dunia, walau kotoran mata ini tetap susah diseka karena mata yg masih lebam. Yap, dengan tidak mengayuh sepeda motor biru nan tua ini saya menempuh perjalanan lintas kota, bersaing dengan truk yang membawa sepeda motor lebih besar dari si biru nan tua ini. Dua lampu merah telah saya lalui dengan manisnya. Hingga tiba di parkiran dimana saya seharusnya berada  pada pukul delapan kurang. Kali ini saya parkir kendaraan biru ini ditutupi dengan menguap yang kesekian kalinya di pagi ini.
Dilanjutkan dengan berjalan santai menelusuri gedung dimana separuh hari terhabiskan di sini. Kotak bermuatan 900kg mengantarkan tubuh sayu ini ke lantai 7 disertai dengan panggilan via handphone dari buk boss yang sedang panik dengan tagihan orderan design, yah, saya putuskan untuk mewarnai pagi ini dengan sedikit menambah panik si buk boss dengan mengatakan saya tidak hadir pagi ini, yang kemudian dilanjutkan dengan omelan ketika beliau menyaksikan saya berdiri di belakangnya yg sedang panik mencoba login ke laptop kerja saya yang tinggal di meja..
Ternyata tidak selalu buruk datang tidak tepat waktu, karena saya juga selalu terpaksa pulang tidak tepat waktu.

Thursday, April 11, 2013

Senja dan Rutinitas

Kamis, hari ke sebelas di bulan april ini, sore hari..seperti biasa dan selalu dengan rutinitas yg menuntut deadline dengan warna dan komposisi iklan. Cahaya senja masuk melalui jendela yang berada di samping meja kerja ku yang penuh dengan perkakas dr berbagai kepentingan. Cahaya merahnya menyilaukan pandangan, memaksa berhenti untuk menghela nafas, meneguk sebotol air mineral. Bersandar di kursi malas ini membuatku santai sejenak diantara deadline yang jauh dr bidang gelar sarjana ini yang telah memasuki usia tahun keduanya. Petang menjelang, menanti kumandang maghrib, selagi asyik dengan lagu2 lawas dr bon jovi dan westlife yang beberapa hari lalu kuunduh karena teringat virus yang diinjeksikan oleh saudara2ku dan ternyata masih tetap menjadi hits di jamannya kpop dan boyband lelaki homo serta girlband dengan paha putih mulus menggoda. Sesekali kumainkan mouse untuk membuka situs jejaring sosial untuk sesekali menjalani kekepoan akan aktivitas friend list yang seringkali mengundang keingintahuan, namun berhubung buk boss yang sedang panik dengan orderan dr berbagai daerah, sepertinya ctrl+tab ke coreldraw dan wetransfer dapat mengurangi kepanikan buk boss yang sedang hamil muda dan ingin segera pulang ke rumah, baiklah jikalau begitu..santai sejenak akibat cahaya merah senja yang menusuk melalui jendela yang berada dekat dengan mesin cetak kantoran mulai bersahabat, mari kita sudahi rutinitas biasa di senja kamis ini..
Sampai ketemu di senja berikutnya..