Sort Link

Saturday, January 9, 2010

Tidak Bodoh Seperti Kelihatannya

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan
itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani
memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, Ia memutuskan bahwa
hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun (ditutup - karena
berbahaya); jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. ia mengajak
tetangga-tetangganya untuk datang membantunya mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur. Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya.

Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan
kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia
mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga menguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Kehidupan terus saja menuangkan tanah dan kotoran kepadamu, segala
macam tanah dan kotoran.

Cara untuk keluar dari 'sumur' (kesedihan, masalah,dsb) adalah dengan
menguncangkan segala tanah dan kotoran dari diri kita (pikiran, dan
hati kita) dan melangkah naik dari 'sumur' dengan menggunakan hal-hal
tersebut sebagai pijakan. Setiap masalah-masalah kita merupakan satu
batu pijakan untuk melangkah. Kita dapat keluar dari 'sumur' yang
terdalam dengan terus berjuang, jangan pernah menyerah ! (never give
up !)
Guncangkanlah hal negatif yang menimpa dan melangkah lah naik !!!
Ingatlah aturan sederhana tentang Kebahagiaan :

1. Bebaskan dirimu dari kebencian
2. Bebaskanlah pikiranmu dari kecemasan
3. Hiduplah sederhana
4. Berilah lebih banyak
5. Berharaplah lebih sedikit
6. Tersenyumlah

Seseorang telah mengirimkan hal ini untuk kupikirkan, maka aku
meneruskannya kepadamu dengan maksud yang sama. GUNCANGKANLAH !!!!
Hidup tidak pernah menyengsarakan Kita,
hanya Kita lah yang tidak pernah menghargai apa yang telah Kita
dapat.

"Entah ini adalah waktu kita yang terbaik atau waktu kita yang
terburuk, inilah satu-satunya waktu yang kita miliki saat ini !"

Tuesday, January 5, 2010

Mengambil Apa yang Windows Ambil

Merasa bosan saat berinternetan diwarnet? atau karena kecepatan speedy yang lemot? sebenarnya ada banyak cara untuk mengakalinya baik dari memakai jasa layanan dengan bandwith yang besar dengan biaya yang pasti menjadi lebih mahal, mencuri bandwith yang lain (jahat), dan masih banyak lagi. Nah kali ini saya akan memberitahukan sedikit informasi bahwa sebenarnya windows memakai 20% bandwith kita, nah kita dapat mengambilnya kembali dengan cara sebagai berikut:


>klik START kemudian pilih RUN

>ketikan “gpedit.msc” (tanpa tanda kutip)

>akan muncul jendela “Group Policy”

>pada “Computer Configuration” pilih “Administrative Templates” kemudian pilih “network”

>selanjutnya pilih “Qos Packet Scheduler”

>double klik pada “Limit reservable bandwith”

>pada setting defaultnya adalah “not configured” maka ubah saja ke “Enabled”

>lalu isikan “0″ pada “Bandwith limit (%)”

>selamat mencoba

Saturday, January 2, 2010

CERITA SEORANG ANAK YATIM PIATU SELEPAS PESTA ULANG TAHUN TETANGGANYA

by Taufiq Ismail

Seminggu lalu datanglah undangan untuk kami anak-anak penghuni Panti Asuhan
Diantarkan seorang ibu dan anak gadisnya. Sekolahnya kira-kira di SMA
Mereka naik Corolla biru. Dari pakaian, cara bicara dan perilaku
Kelihatan tamu ini orang gedongan. Golongan yang hidup lebih dari kecukupan.

Mereka mengundang anak-anak Panti Asuhan Untuk ikut acara ulang tahun Rebo jam tujuh
malam.

Dan berangkatlah kami pada waktu yang ditentukan Berjumlah dua puluh tiga, termasuk bapak dan ibu asrama. Jalan kaki bersama, karena jaraknya cuma terpisah sepuluh rumah saja.

Rombongan disilakan masuk dengan ramah, dan anak-anak berusaha duduk di belakang-belakang saja
Tapi disuruh berbaur dengan tamu-tamu lainnya, para remaja belasan tahun, Mereka sehat-sehat, harum-harum, berbaju mahal dan tembem-tembem pipinya.

Saya berjuang melawan sifat minder saya, duduk di tengah ruang tamu yang luas, di atas karpet bersila, pegal dan canggung di antara jajaran barang antik dan macam-macam perabotan, di bawah lampu keristal bergelantungan.

Tapi alangkah aku jadi heran, tidak ada acara potong kue dan tiup lilin
Tidak ada tepuk tangan mengiringi lagu Hepi-Bisde-Tuyu - Hepi-Bisde-Tuyu.

Lalu seorang remaja membaca Surah Luqman.
Dengan suara amat merdunya dan suaranya berubah jadi untaian mutiara
Yang berkilauan jadi kalung di leher pendengarnya.

Kemudian Lia yang berulang tahun berpidato sangat mengharukan

”Dalam acara seperti ini, bukan saya yang jadi pusat perhatian diperingati atau
dihargai tapi mama...Ya, mama kita, Ibunda kita dan ayahanda.
Ibunda dan ayahanda adalah pusat perhatian kita.
Hari ini, enam belas tahun yang lalu
Mama melahirkan saya
Posisi saya sungsang, Saya terlalu besar
Jadi mama harus sectio Caesaria. Mama dibedah,
berdarah-darah. Seluruh keluarga khawatir dan berdoa
Di luar ruang operasi duduk menanti berita
Dalam kecemasan luar biasa. Tapi alhamdulillah
kelahiran selamat walau pun mama sangat menderita

Sekarang ini, enam belas tahun kemudian
Ulang tahun saya dirayakan. Saya pikir, tidak logis
saya jadi pusat perhatian. harus mama yang jadi pusat perhatian
Mama. Bukan saya, Saya pikir, tidak logis saya minta kado
Harus mama yang diberi kado…”

Anak gadis itu berhenti sebentar, dia sangat terharu
Kemudian dia mengambil sebuah bungkusan
Kertas berkilat, diikat pita berbentuk bunga

”Mama, Terima kasih mama, terima kasih
Mama telah melahirkan saya, dengan susah payah
Mama menyabung nyawa berdarah-darah persis
malam ini, 16 tahun yang lalu.
Terimalah rasa terima kasih ananda tidak seberapa harganya.”

Mamanya berdiri terpukau pada kata-kata anak gadisnya terharu pada jalan pikirannya, yang dia tak sangka-sangka, dia langsung memeluk anaknya, terguguk-guguk menangis

Keduanya tersedu-sedu, Hadirin menitikkan air mata pula, Suasana mencekam terasa dan hening agak lama, kemudian kakak pembawa acara berkata :
”Para hadirin yang mulia, ini memang kejutan bagi kita, karena dengan tahun yang lalu acara ini berbeda.
Lia tidak mau tiup lilin jadi acara karena ditemukannya di ensiklopedia Manusia di Zaman Batu di Eropah yg percaya pada kekuatan nyala lilin, begitu tahayulnya, bisa mengusir sihir, roh jahat, leak dan memedi begitu katanya, termasuk sijundai, setan, hantu, kuntilanak dan gendruwo. Dan itu berlanjut ke zaman Romawi kuno, Lalu dikarang lagi berikutnya superstisi, yaitu apabila lilin-lilin itu sekali tiup nyalanya semua mati, maka akan terkabul apa yang jadi cita-cita di dalam hati.
Lia tidak mau acara ulang tahunnya oleh tahayul jadi bernoda. Acara yang ditentukan oleh budaya jahiliah zaman purbakala.
Katanya: ’Kok tiupan nyala 16 lilin bisa menentukan nasib saya?
Allah yang menentukan nasib saya, sesudah kerja keras saya, saya tidak mau dibodoh-bodohi tahayul
Walau pun itu datangnya dari barat atau pun timur juga. Saya tidak mau dibodoh-bodohi budaya mereka , Minta kado dari Papa dan Mama, minta kado dari keluarga dan kawan-kawan saya.
Saya tidak mau cuma jadi kawanan burung kakaktua, Burung beo yang pintar meniru adat Belanda dan Amerika dalam acara ulang tahun kita’ Begitu katanya.”


Sesudah bertangis-tangisan dengan ibunya, berkatalah yang berulang tahun itu

”Hadiah paling saya harapkan dari kalian
Adalah doa bersama, sesudah hamdalah dan salawat karena saya ingin jadi anak yang baik laku, jadi perhiasan di leher ibuku , jadi penyenang hati ayahku, rukun dengan kakak-kakak dan adik-adikku, bertegur-sapa dengan semua tetangga. Dan kelak ketika dewasa berguna bagi Indonesia.”
Anak yatim piatu yang mendapat undangan itu bersama kawan-kawannya disilakan makan bersama-sama

Dengarlah kisah kesannya kini:
”Dalam acara makan kunikmati nasi beras Rajalele yang putih gurih, dendeng tipis balado, ikan emas panggang dan udang goreng, besar dan gemuk-gemuk. Belum pernah aku memegang udang sebesar itu

Di asrama ikan asin dan tempe, seperti nyanyian yang nyaris
abadi, kadang-kadang makan pun cuma sekali sehari.

Ketika kulayangkan pandangku ke depan, kulihat tuan rumah yang baik hati itu
Bapak dan ibu itu berdiri bersama Lia anak gadisnya, berbicara amat mesranya.

Kubayangkan ayahku almarhum, mungkin seusia dengan bapak ini, beliau meninggal ketika umurku setahun
Kubayangkan ibuku almarhumah wafat ketika aku kelas enam SD
Mungkin seusia pula dengan ibu itu
Tidak pernah aku merayakan ulang tahunku
Tidak pernah.
Semoga sorga firdaus jua bagi ibu bapakku
Panas mengembang di atas pipiku
Tak tertahan Titik air mataku.”