Sort Link

Tuesday, May 26, 2009

Langit Merah Di Langit Barat


adzan subuh di pagi hari ini terdengar sayup-sayup menggelitik telinga kananku, karena telinga kiriku dengan nikmatnya bersandar pada sebuah bantal kucel dan kumal, lama tidak mengenal detergen, membangunkan ku dari tidur yang sangat melelapkan bagiku, karena hidup menguras pikiran dan tenaga ku. kucoba melirik dari sudut mataku yang malas untuk melihat langit dari kamarku, ke bagian belakang rumah yang terbuka langsung menuju langit, karena memang kamarku berada pada bagian paling belakang rumah. ternyata gemuruh tadi menitikkan air mata langit, membahasahi bagian belakang rumah, walau tidak terlalu melankolis. namun, warna langit kala itu merah merona, seperti malu akan bumi yang selalu saja melupakannya, mungkin langit rindu menyaksikan hambaNya yang selalu terbangun di malam hari untuk menyembahNya. tubuh kecilku menggeliat di atas kasur kapas yang kokoh, mencoba mengumpulkan sisa-sisa nyawa yang hilang bersama terlelapnya ragaku.

kusandarkan tubuhku di sudut kasur kesayanganku, menggosok-gosok kepalaku terasa sungguh penuh dengan semua memori kehidupan selama ini. iklim dan cuaca yang sudah beberapa bulan ini tidak bersahabat, membuat terkadang tidur malam ku terganggu, tidak seperti biasanya, karena kini aku selalu terbangun di dini hari, untuk sekedar menata pikiran dan hati, panas membuat ku penih dengan keringat, kemudian mencoba kembali tertidur.
namun, di subuh hari ini, langit merah justru menyadarkan ku dari lamunan panjangku, langit ini merah dengan sesekali menitikkan air matanya. suasana di subuh ini adalah potret singkat kehidupan yang terkadang membutakan mata hati kita dari kenyataan. ujian tengah semester yang sedang menggerogoti hari-hariku, terasa sangat menjemukan, namun kenyataan harus dihadapi bukan diratapi. perjuangan tidak pernah terputus hingga kehidupan merenggutnya dari realita dan mimpi kita.
lama ku terdiam di bali langit merah pagi ini, sebelum hujan lebat turun mengguyur daerah kami. membasahi kehidupan yang telah lama kering dari air hujan. syukur kupanjatkan, karena telah lama kotaku hangus terbakar teriknya mentari, menghitamkan kulit, menguras kadar air dalam tubuh. memaksa tubuh untuk selalu akrab dengan air mineral untuk menghindari dehidarasi.
ternyata langit merah membawa air mata bahagia bagi kehidupan disini.
semoga mampu mengikis panas yang selama ini menghantui hari-hari kami.
tetap semangat untuk ujian yang tinggal sehari lagi....^^

Saturday, May 23, 2009

catatan ringan menghadapi UTS

perbedaan kurikulum dengan kampus lain menyebabkan kami harus menjalani masa-masa yang berbeda dengan kampus-kampus lainnya. di saat kampus lain sibuk dengan masalah UAS dan bahkan ada yang sedang menikmati liburan, kami justru baru akan menghadapi UTS. otonomi kampus yang diberikan oleh pemerintah dan status sebagai kampus swasta adalah berbagai alasan mendasar yang menyebabkan hal ini.

baru saja 2 bulan yang lalu kami tersenyum simpul ketika menyadari diri kami kini memasuki semester genap yang baru, ternyata 2 bulan yang lalu itu telah jauh meninggalkan kami, karena kini masa pertengahan lah yang harus kami hadapi, bukan adaptasi dengan mata kuliah baru yang harus kami perjuangkan, tetapi seberapa besar perjuangan kami dalam 2 bulan ini akan dibuktikan dalam waktu 5 hari, tetapi bagi kami yang dalam IT angkatan 2007, ujian teori ini hanya berlangsung selama 3 hari, sebuah tantangan yang harus kami maksimalkan dalam perjuangannya.

road to UTS genap 2009 ternyata telah berlangsung seminggu bahkan 2 minggu sebelumnya, mungkin bagi kaum cowok ujian merupakan momok paling memuakkan. ketika kami harus mengorbankan mahkota kebanggaan kami untuk kembali dipendekkan. sudah jadi tradisi di PCR bahwasanya, rambut panjang merupakan sebuah kelangkaan, bahkan harus disingkirkan ketika ujian menjelang (UTS dan UAS), tapi kini justru sudah merambat ke masa-masa perkuliahan, karena tuntutan dosen yang memberikan patokan rambut yang pantas hadir di kelasnya. label politeknik memang menuntut kerapian dalam konteks yang baku.

selain daripada masalah klasik yang selalu jadi masalah tiap semester, banyak yang perlu dipersiapkan dalam tiap menghadapi UTS bahkan UAS nantinya. bagi kita, penghuni level masayarakan pelajar dan mahasiswa ini, masih mengedepankan berbagai tips dan trik dalam menghadapi ujian yang menantang dan merintangi di depan mata. bukan hanya yang legal dan sah, tetapi juga yang ilegal dan beresiko fatal. untuk mahasiswa sekelas "on air", kelicikan mungkin adalah solusi yang paling kentara, yang mempengaruhi keselamatan mereka dalam menjalankan misinya adalah jam terbang dan ketenangan. bagi mahasiswa sekelas "pintar", mereka hanya akan mengutamakan kemampuan otak dan daya ingat, membutakan hati dan rasa terhadap lingkungan sekitar, terkadang ada yang memang punya bakat pintar dan pintar kloning, pintar kloning adalah pintar yang didapatkan dari hasil kerja keras. dan untuk level elite dari mahasiswa adalah, "cerdas", ketika kepintaran dipadukan dengan kepedulian maka akan menghasilkan tingkatan cerdas itu. tidak solo dan egois, membantu teman sekitar, baik itu dalam hal menghadapi ujian dalam konteks persiapan, dan ketika kebuntuan dan keinginan menolong berpadu, maka disitulah tingkat kepedulian berpartisipasi.
tipe apa kita dalam menghadapi ujian?
hidup adalah pilihan, tergantung anda menempatkan diri anda sebagai siapa dalam ujian.

sebuah fakta klasik selalu terkuak dalam masalah ujian.
ketika ujian dijadikan patokan penilaian terhadap kemampuan seseorang, maka orang akan melakukan apa pun untuk mendapatkan pembuktian itu.
terlalu naif jika kita menilai kemampuan seseorang dari hal yang terdapat pada selembar kertas dengan judul IPK, mungkin beberapa teman saya setuju dengan hal ini.
karena justru ketika pengaplikasian ilmu itu, justru yang tidak tertera dalam selembar kertas itu mampu berkata banyak kepada dunia.

demikian catatan ringan ini, hanya untuk membuka hati, membuka mata, bagaimana cara pandang kita menghadapi ujian....trimakasih....

Thursday, May 21, 2009

Tawa dari Balik Air Mata

kemarin, ketika umi dan papa datang mengunjungiku di Rumbai, untuk sekedar melepaskan kerinduan, dan memasakkan makanan khas rumah yang sangat kurindukan, banyak cerita yang terlontar dari umi tersayangku yang memang sangat senang jika diajak bercerita, mungkin jika papa tidak mengingatkan untuk pulang ke rumah di Panam, cerita akan berlanjut panjang. namun, dari pertemuan yang singkat ini banyak cerita yang sungguh sangat aku butuhkan untuk kembali menegaskan betapa aku merindukan mereka, betapa aku menyayangi mereka. cerita singkat sarat arti dan makna.
cerita pertama tentang jodoh, mungkin ini karena saudara lelaki tertua pengetik yang telah menginjak usia 27 tahun, mulai menjajaki hubungan dengan lawan jenisnya. uda yang memang tipe cowok pendiam dan kaku dengan lawan jenis, justru kini mulai melancarkan serangan-serangan berbau romantis kepada seseorang yang kini sedang didekatinya, pengetik tidak tau banyak mengenai sosok perempuan ini, tapi apa pun pilihan dan keputusan saudaraku yang satu ini, saya akan dukung sepenuhnya. dari cerita ini umi banyak menceritakan dan mengajarkan ku untuk menghargai sosok wanita, dan bagaimana seharusnya lelaki bersikap. entah mengapa, selama ini pengetik masih beranggapan dan merasa belum pantas berfikir ke arah sana, tetapi umi mengatakan, pengetik sudah waktunya untuk mulai mengatur fikiran yang sudah mengarah ke sana, karena pengetik bukan lagi seorang anak kecil yang masih selalu mengadu kepada orang tuanya, tersadar betapa aku kini telah menginjak usia dewasa.hhhh....tanggung jawab pun semakin besar tentunya.

setelah cerita jodoh tadi, umi melanjutkan ke cerita yang justru menjadi klimaks cerita di hari itu.
mira, my little princess yang kini berusia 2 tahun 4 bulan, di ceritakan umi bahwa kemarin dia sempat mengalami panas tinggi (yang pengetik tau ketika itu mira hanya sakit), bahkan panasnya mencapai 40 derajat, dan itu sungguh mengkhawatirkan, dan ketika cerita ini, papa pun ikut serta. dikatakan bahwa kebiasaan si mira untuk ikut serta menghabiskan kopi papa di pagi hari mampu membantunya untuk mengatasi panasnya yang tinggi hingga tidak mengalami step. alhamdulillah, yang menjadi cerita luar biasa adalah ketika umi dan papa melarikan dia ke rumah sakit terdekat, setelah sebelumnya di bawa ke klinik dekat rumah, yang kemudia merekomendasikan untuk di bawa ke rumah sakit setelah sebelumnya di beri pertolongan pertama dengan air gula dan air panas kuku. ketika umi dan papa membawanya dengan mobil kencana kami, mira yang terbaring pucat di pelukan umi, berbicara dengan lancar dan seperti tidak anak seumurnya, mira berkata kepada umi, sesuai dengan cerita umi dan papa, "umi, maaffin mira, mira nakan, mira susahin umi, umi capek, maafin ya, papa..kopinya enaaak...hmmmm". ketika pengetik mendengar cerita ini, sungguh tak terbayangkan betapa dalamnya makna yang tersirat dari perkataan nya ini. ketika cerita ini di paparkan umi, pengetik menyaksikan mata umi yang berkaca-kaca, di sudut matanya tergenang air mata. begitu juga dengan papa, momen yang bagi mereka sungguh berat untuk di kenang. yang terbayang di dalam fikirku adalah betapa rasa sayang ku pada si putri kecilku dan kerinduanku padanya, betapa beratnya masa kecil yang dia lalui selama ini, tak ingin ku mendengar dan mengetahuinya berakhir tanpa kehadiranku yang tak mampu berbuat sedikitpun. anak sekecil itu mampu berkata seperti itu, dibalik air mata umi dan papa, tersimpul senyum bahagia begitu si putri kecil kami itu kini sudah baikan. dan mengetahui betapa cerdasnya ia, yang selama ini mungkin ia sembunyikan dari kami, betapa besarnya rasa sayang kami kepadanya. telah Kau titipkan dirinya pada kami, izinkan kami memberikan yang terbaik padanya, ya Allah, doa singkat umi ketika mengakhiri cerita ini.
cerita terakhir adalah....
ketika kami bercerita tentang kehidupan perseorangan kami, menyinggung mengenai abang yang justru memiliki jalan hidup yang sungguh berbeda dari kami, namun ternyata beliau mengaliri deras darah umi yang tidak suka terikat, butuh pembuktian, jiwa bertualang, kemudian pengetik bertanya mengenai hobi menulis yang sedang menggebu, umi dengan senangnya bercerita betapa gilanya beliau ketika sekolah dengan dunia tulis menulis. bahkan beliau telah mencapai tingkat nasional untuk urusan tulis menulis, karena di sumbar beliau telah dikenal dengan tulisannya. betapa senangnya dan bangganya beliau dengan anak-anaknya yang mengaliri darah seni dari dirinya, dan juga dari darah papa yang sangat mencintai keindahan tulisan. kucoba membangkitkan kembali semangat dan mimpi umi untuk kembali menulis, dan sungguh besar dan masih berkobar mimpi beliau untuk melanjutkan bakat besar beliau dalam menulis.
pengetik selalu merindukan masa-masa dan momen-momen seperti ini, ternyata waktu mampu menyadarkan kami betapa besarnya rasa sayang kami kepada keluarga, kedewasaan mengajarkan segalanya, jarak memupuk kerinduan dan sayang yang semakin subur tumbuh dalam hati, jiwa, dan raga kami.
dari tiap tawa cerita kami, tersembunyi air mata yang telah siap mengalir menunjukkan gejolak hati yang sungguh tak tertahankan.
dalam hati, bahagia mereka lah penopang hidup pengetik.....
aku ingin pulang......
kusimpan tawa dari balik air mataku.....
menunjukkan ketegaranku.....

Monday, May 18, 2009

Pulang dalam Dekapmu, kotaku


hingga detik ini aku tidak mampu menghilangkan bayangan ku akan sebuah kota, yang hampir di tiap tidurku hadir menghantuiku, mencoba membuka lembaran-lembaran lama yang telah jauh tertinggal di episode masa lalu. kota di mana dipenuhi memori-memori cerita kenangan masa kecilku.
kadang seringnya terngiang dalam fikirku betapa jauh kutelah kehilangan dan meninggalkan masa itu. di mana pertama kalinya kedua bola mata kecilku menatap gemerlapnya dunia fana ini, dimana pertama kalinya kumampu menjejakkan dua kaki ku untuk dapat berjalan, dimana pertama kalinya kumengenal fakta dan realita akan lirik-lirik dunia, semua tersimpan dan tersusun secara rapi dan apik dalam bab kehidupan ku yang dengan gagah kububuhi judul "RIYADH". kota yang dekat dengan saudara-saudaranya, "MEKKAH","MADINAH","JEDDAH", dan bahkan "TAIF".
ibukota Saudi Arabia, kota di mana aku dilahirkan pada sebuah rumah sakit swasta, "Nasriyah". bahkan cerita unik dari umi yang menggambarkan betapa ragam ras yang hidup di sana masih sering terulang dalam memori fikirku, cerita yang mengisahkan asal mula legam nya kulit ini, ahahahahaha....
umi berkelakar, ketika saat-saat mengandung hingga melahirkan, beliau ditangani oleh seorang dokter yang luar biasa baik dan sabar nya menghadapi betapa rewelnya dan mengesalkannya beliau ketika mengandung diriku. dokter tersebut adalah orang asing yang berkulit legam, cerdas, dan telaten, bukan orang setempat, karena memang tenaga medis di sana dominan menggunakan tenaga asing yang telah terbukti kemampuannya. umi mengatakan mungkin kulit legam ku mengadopsi kulit sang dokter idola,ahahahhaa...mengapa dokter yang menangani bukan keanu reaves aja?aahahahah

masa-masa kecilku, kulalui lebih banyak bersama umi tercinta dan papa tersayang, dan saudara-saudaraku yang dahulu kala sangat bahagia ketika mampu membuat diriku menangis meraung-raung karena perlakuan mereka, yang kini ketika kami mencoba mengulang saat-saat itu, hanya tawa ngakak yang sanggup keluar dari corong-corong besar kami. teman sepermainan adalah anak-anak para rekan kerja papa di kantor, KBRI Riyadh di level local staff dan home staff, dan juga anak-anak dari para guru di SIP(Sekolah Indonesia Pancasila) yang berganti nama menjadi IIS(International Indonesian School) dan kini menjadi SIR(Sekolah Indonesia Riyadh). teman-temanku itulah yang selama 9 tahun di Riyadh menjadi sahabat, bahkan sejak kami bayi, kami sudah diperkenalkan, karena memang tidak banyak orang di lingkungan kami yang berwarga Indonesia, ahahahahhaa.....

betapa indahnya kota Riyadh, yang megah dengan bangunan-bangunan pencakar langitnya dengan berbagai pertokoan lokal dan asing, pusat perbelanjaan dengan keunikan masing-masing, dan arsitektur bangunan tua yang masih terawat dengan baik. kota kelahiranku, kota asalku, walau di darahku mengalir deras darah Indonesia. namun, rasa sebagai bangsa assaudiah tetap tertancap dalam jiwaku.

kerinduanku tak tertahankan.....
kuingin kembali ke masa-masa itu, tepatnya kembali ke kotaku...
betapa rasa ini sering menjadi tuntutan bagiku untuk menggapai mimpi-mimpiku agar mampu mencapai tanah yang telah menjadikan bagian dalam bait-bait cerita sejarah biografi kehidupan milikku....
dengan membawa serta seluruh keluarga tercintaku, kuingin mengulang masa-masa itu lagi, masa-masa paling inspired dalam hidup kami.

biarkan aku pulang....
biarkan aku merasakan untuk menjejakkan raga ku terakhir kali....jikalau itu adalah hari terakhirku sekalipun, aku memilih untuk berakhir di tanah kelahiranku, dimana aku berasal, disana aku berakhir.......
aku ingin kembali ke pelukan mu(Riyadh) yang telah lama kau biarkan aku terbang jauh dari rangkulan hangatmu.....

Saturday, May 16, 2009

Badmood


mungkin tulisan ini adalah mengenai hal yang paling sering kita rasain dalam momen-momen atau saat-saat tertentu dalam chapter kehidupan kita. hal ini saya rasakan paling sering melanda emosi di saat-saat tertekan. justru pernah hadir di saat-saat yang sama sekali tidak di harapkan.
saya memang terlalu moody....
hal yang paling aneh selalu terjadi dalam bagian kehidupan, yang menyebabkan banyak hal terjadi di luar skenario. karena bagi saya, ketika badmood masuk ke dalam bab kehidupan saya, tak bisa seorang pun masuk untuk sekedar menghibur sekalipun. saya membutuhkan momen-momen untuk sendiri, mengurung diri dalam kamar adalah hal yang paling sering saya lakukan.
saya sering memikirkan alasan kenapa hal ini menghinggapi diri ini. dan saya dapat selalu menyimpulkan beberapa hal yang paling sering menyebabkan hal ini hadir.

pertama, ketika susunan kehidupan yang telah saya inginkan ternyata hanyalah sebuah halangan untuk saya dapat maju.
kedua, terlalu banyak tekanan yang sama sekali tidak saya harapkan, dan memang bukan yang harus saya hadapi.
ketiga, emosi sedang labil disebabkan hal-hal kecil yang menumpuk.

beberapa kali saya berhasil mengatasinya dengan mencari kesibukan, menyalurkan hobi adalah cara yang paling saya gemari, disamping saya juga senang mengurung diri, bersama tumpukan buku bacaan atau sekedar online dengan laptop dinas saya.
tentunya cara seseorang menyikapi badmood mereka berbeda-beda. dan alasan yang berbeda-beda pula.
namun, kemampuan kita mengontrol emosi, adalah kunci paling besar untuk mengatasi hal-hal seperti ini yang sering hadir pada bagian kehidupan kita. yang perlu diwasapadai adalah jangan sampai hal ini mampu menurunkan semangat kita untuk berkreasi dan untuk terus maju. usahakan secepatnya kendalikan emosi ketika saat-saat seperti ini tiba. karena seringkali ketika hal ini datang, kita lebih memilih untuk berdiam diri, yang paling penting diam, tapi otak tetap bekerja.

kemampuan seseorang mengontrol emosinya adalah sebuah kunci yang paling penting untuk mencapai sebuah prestasi dan kesuksesan dalam kehidupan kita.
karena selalu ada rintangan dan cobaan yang datang dalam bab-bab kehidupan kita, termasuk yang datangnya disebabkan oleh diri kita sendiri.
hidup adalah rentetan cobaan, cara kita menyikapinya adalah kunci kita untuk dapat keluar dari setiap cobaan.

saya juga masih dalam sebuah perjaungan untuk terus memulai dan menjalani setiap bait-bait kehidupan yang kini semakin tebal dalam buku "my life history", yang tersimpan dalam masa.

badmood adalah kebiasaan saya yang justru kini menjadi saat-saat untuk saya merenungi diri sendiri.

Thursday, May 7, 2009

Lia Agnesty


konsistensi dan ketabahan adalah sebuah kunci paling kecil dari perjalanan panjang. perencanaan sematang apa pun, realisasi seakurat apa pun, pengaplikasian yang seefektif apa pun, tetap hanya bernilai nihil, ketika keputusasaan atau pun kebuntuan merangkul jiwa, semua hanya akan jadi rentetan kegagalan.
banyak hal belakangan ini yang mengajarkan ku makna kecil dari besarnya arti sebuah kehidupan. banyak fakta yang justru membangunkan ku dari pikiran yang terbelenggu dalam lingkaran realita. hidup memang bukan sekedar realita dan kenyataan, banyak hal yang terkandung dan dapat di sampaikan dalam cerita hidup yang justru kita mampu menuliskannya perlahan.

Lia Agnesty, mengajarkan banyak hal dalam waktu singkat. memberikan banyak hal dalam hitungan waktu. bahwa ketika mata menyampaikan hasil pemotretannya kepada hati, maka hati akan segera menyerap data dan mengolahnya menjadi sebuah input yang paling berharga, kemudian mengeluarkannya dalam bentuk output ke dalam fikiran dan jiwa. mungkin sebuah perumpamaan yang sangat dangkal untuk menggambarkan efektifitas dari rasa. tarik ulur, maju mundur, dan berbagai rentetan dan percikan barisan dan deret rasa dalam hidup, tergoreskan dengan jelas dalam perjalanan perjuangan yang tergolong lama ini.
membutuhkan banyak inspirasi untuk mampu menentukan langkah demi langkah, bahkan bait demi bait yang harus di sampaikan. aku terlalu terpaku pada satu hal, "ingin dia", dan seketika aku tersadarkan, bahwasanya antara keinginan dan kebutuhan selalu saja bertentangan....memiliki dan menyayangi adalah hal yang sungguh sangat sulit untuk di bedakan. dalam sekejap, aku mampu mempelajari banyak hal. ketika hidup mengatakan "iya", maka itu belum tentu "iya", karena hidup punya cara sendiri untuk mengatakan "tidak" serta punya trik tersendiri untuk memberikan jawaban "iya". jangan pernah memutuskan suatu hal hanya dari sebuah kata.....
Lia Agnesty, memberikan sebuah inspirasi yang justru membukakan ke pintu-pintu imajinasi, khayal, asa, cita, dan sebagainya. masalah hati? bukan hanya itu, ini masalah kehidupan.
seberapa mampu memaknai kehidupan, adalah cara seseorang untuk lebih menghargai hidup.
beberapa fakta kini telah terurai, aku yang telah manapaki perputaran kehidupan yang sangat signifikan, dimulai dari nilai kehidupan yang berada di atas, dan seketika di jatuhkan ke dasar, memberikan sebuah kenyataan hidup berkuasa dan berkehendak atas izin Allah, ketika Dia ingin, maka terjadilah. hingga hidup harus kami tapaki walau terus tergelincir. tak pernah sedikitpun ada dalam benak kami untuk ada putus asa, terlalu naif, terlalu lemah, karena hidup tidak akan pernah berakhir sebelum hidup itu mengatakannya dengan lantang berakhir. basic nya hidup adalah untaian perjuangan, rangkaian kerja keras. dan itulah hidup.
ketika kita memberikan apa yg berharga dalam hidup kita, maka kita akan mendapatkan hal yang jauh lebih berharga buat kita di masa-masa nanti. karena kehidupan hanya menerima yang terbaik yang mampu kita berikan, bukan apa yang kita sanggup berikan.

aku telah lama bersembunyi dalam bayang-bayang kehidupan ku yang menutup wajahku dengan tirainya yang tebal, memaksaku untuk tidak mampu menunjukkan diriku pada kenyataan, tapi ternyata hidup hanya mengajarkan ku untuk mampu tegar, hidup memaparkan bahwa indah bukan hanya sekedar fatamorgana.
terima kasih saat ini..
untuk Lia Agnesty, my moonlight, membawaku kepada cahaya.
mi corazon, i love u....

Wednesday, May 6, 2009

Topologi Kehidupan

Cobaan datang memang selalu dengan membawa berbagai kejutan yang sangat luar biasa, bahkan mampu mengguncang kehidupan. Tak peduli siap atau tidaknya kita menghadapi ujian tersebut, namun kita dituntut untuk mampu menghadapi berbagai situasi yang menuntut kita untuk selalu tetap ikhtiar dan tawakal, dua hal paling sakral dalam hidup. Begitu juga dengan beberapa hal yang terjadi dalam hidupku, ketika sebuah eksistensi menuntut sebuah pengorbanan, ketika sebuah niat kebaikan ternyata hanya menjadi lumpur hidup, yang menghisap seluruh makna dari tujuan dan niat baik yang terbersit dalam hati. Terjebak dalam situasi yang serba salah sungguh sebuah cobaan yang selama ini paling berat untuk dihadapi.
Namun, hidup tidak pernah menuntut pengorbanan dari kita lebih dari apa yang sanggup dan mampu kita korbankan. Walau banyak yang berkata, "hidup terkadang memang tidak adil", tapi justru hidup berlaku sangat adil kepada per orangan manusia, hanya hidup tidak selalu mengatakan "YA", tetapi hidup akan selalu menjawab dengan hal yang terbaik (inspired by : Uchi). Bagiku hidup terlalu indah untuk aku berhenti pada suatu titik terendah yang memaksaku terjatuh. Bagiku hidup terlalu berharga untuk ku menyesali setiap kebodohan, baik itu besar maupun kecil. Semua selalu ada balasan yang setimpal, apa yang kita dapatkan atau alami adalah buat perbuatan kita di masa-masa yang lalu. Sudah ku katakan tadi, "Hidup selalu berkata adil dengan cara yang kita sama sekali tidak tahu apa makna adil bagi sebuah jalinan tali kehidupan".
Mungkin pada saat ini, sebuah tamparan keras pada ku telah menyadarkan ku dari sebuah kekurangan penghargaanku kepada hidup, aku terlalu asyik dengan kehidupanku, aku menari-nari sendiri di atas kanvas putih milikku sendiri, mencoba bermain warna dalam kanvas kehidupan yang hanya untukku sendiri. Tapi ternyata itu adalah sebuah kesalahan yang sangat besar, karena kanvas putih itu adalah sebuah media sosialisasi terbesar yang diberi kehidupan kepadaku untuk menyatukannya dengan warna-warni indahnya kehidupan dunia yang dirintis, semua menuju satu perhentian abadi.
Kemarin, umi dan papa, juga adik bungsuku datang menjengukku, mereka datang membawa obat penawar rinduku akan ikatan terbesar dalam hidupku, keluarga. Jiwaku terhujam pedang tajam hingga hampir membunuhku, pedang rindu yang semakin lama semakin tak dapat kubendung. Aku rindu keluargaku. Umi, cintaku tak sedikitpun pernah berkurang, cintaku terus menuju puncak yang tak pernah ada ujung. Tak ingin sedetikpun kulewatkan momen bersamamu. Namun, kehidupan membawaku untuk lepas darimu, hanya raga, namun seluruh kehidupanku adalah untukmu.....papa, engkau adalah aku, sosok lelaki yang mencerminkan sebuah pengorbanan dan perjuangan panjang tanpa putus harapan, kau adalah idolaku.
Inginku dekap mereka erat dalam kehidupanku dan tak pernah sedetikpun kulepaskan, agar mereka selalu menemaniku menerjang kokohnya batu cobaan kehidupan ini. tapi aku yakin mereka selalu ada untukku......