Sort Link

Friday, March 27, 2009

Para Penjelajah Langit (Part 2) : Menapaki Birunya Laut dan Langitnya

Hari kedua dari para penjelajah langit, menuju kota Padang, ibukota Sumatra Barat. Tujuan utama adalah pantai, sudah begitu lama kami tidak melihat laut, hampir hilang ingatan kami betapa kerasnya angin laut menerpa permukaan kulit ketika kita di pantai.
Perjalanan telah dimulai sejak kami terbangun dari tidur saat pagi hari, angin daerah Baso, membuai kami untuk terus berlama-lama dalam balutan tebalnya dan hangatnya selimut, dingin yang menusuk kulit semakin membuat kami berlama-lama dalam buaian mimpi yang memanjakan. mungkin ini karena kami terlalu lama hidup dalam iklim panas khas Pekanbaru, berpeluh keringat dan badan selalu terasa lengket, hingga dingin alami menjadi hal langka yang sangat sangat sangat kami rindukan...

ketika terjaga, sebagian dari kami bergegas untuk ke kamar mandi, ya tentunya menyalurkan niat untuk mandi..karena rute perjalanan hari ini adalah...dari Baso menuju kota Padang.
Efan, lelaki berbadan besar karena memang tulangnya yang besar , berkulit putih dan berambut ikal pendek, ternyata adalah orang pertama yang terpilih dan berani mengadu raganya bersama air super duper dingin khas daerah di ketinggian, Bukittinggi, dan sekitarnya...
beberapa saat kemudian....
setelah "seorang" Putra, berpacu jantung dengan air yang dingin, akhirnya tiba giliran trio anti air, Taufik, orang yang paling sentral dalam perjalanan ini (karena dia yang paling tau jalan...), Fadli lelaki dengan badan gemuk dan perutnya yang khas (baca : buncit), serta saya sendiri lelaki yang selallu dalam pikiran anda, dengan gagahnya bak super model masuk ke kamar mandi bertiga(jangan berfikiran buruk), dengan niat yang seragam, cuci muka, gosok gigi, dan sedikit membasahi rambut, tanpa mandi tentunya....ternyata dinginnya air mampu menimbulkan niat tidak mandi mereka, sebenarnya mereka adalah orang-orang tampan dengan kebersihan di atas rata-rata. tenang, ini hari pertama jauh dari pekanbaru. kemudian lelaki berbadan atletis berparas sedang, dan selalu saja hadir dengan candanya yang over high, sebut saja Awe(bukan nama sebenarnya), beserta seorang "kambing" yang ternyata tidak lagi takut air, sebuah evolusi luar biasa, kita sebut saja Ijal, menunaikan hasrat mereka untuk menyegarkan tubuh atletis mereka, yang telah ditempa dengan besi-besi di tempat pelatihan, dengan mandi.
setelah semua bersiap dengan kostum andalan masing-masing untuk mengunjungi panggilan kota Padang, sementara itu mereka harus menanti kepulangan Pak Uo dan Mak Uo sang pemilik rumah yang sedari pagi telah membanting tulang dengan pergi berjualan dan berbelanja di pasar sekitarnya, sebuah kebiasaan dan tuntutan hidup di daerah subur adalah hidup dengan mengandalkan hasil alam dan kerja keras dari manusia itu sendiri dan kehendak Yang Di atas, untuk terus melanjutkan hidup. Pelajaran pertama dari perjalanan kami, "mencoba mensyukuri apa yang telah kita dapatkan,apa pun itu". Karena jelas kebahagiaan terpancar dari mata kedua orang tua yang telah dimakan usia ini, dengan kehidupan yang penuh rutinitas yang mereka jalani setiap harinya, jauh dari kehidupan mewah ala perkotaan besar.
sambil menunggu kehadiran kedua orang tua kami itu, kami mengisi dengan hal-hal khas turis, "Photo Session", ahahahah.....
sambil kembali menyusun rencana perjalanan kami.
ternyata kedua orang tua kmi muncul dengan membawa bungkusan yang berisikan lontong khas daerah Baso, Murah dan Banyak...ahahahh (kapan di pekanbaru kek gini ya??)
karena menghargai layanan tuan rumah, mau tidak mau kami terpaksa menikmati hidangannya (sebenarnya sangat-sangat mengharapkan..ahahaha). ditemani secangkir teh bubuk hangat beraroma bunga rose yang semakin menambah nikmat pagi.
setelah selesai hidangan, kami pun pamit, dengan niat mencari penginapan di daerah kota Padang nantinya, dan lusanya baru kembali ke kediaman Pak Uo.
Dan akhirnya Fortuner pun berangkat menuju kota Padang. Perjalanan yang memakan....jam (saya tidak ingat tuh berapa jam, soalnya hampir sepanjang perjalanan, saya tidur, nikmat, ehehehe)diisi dengan berbagai canda penuh humor berbumbu tawa walau terkadang cenderung rasis,sara,dan mengarah ke kasar khas lelaki.

setelah kami tiba di kota tujuan, Padang, kami dituntut sangat berhati-hati untuk urusan lalu lintas, karena kini kota Padang dipenuhi dengan jalan satu arah di bawah pengawasan pak polisi tercinta yang sudah siap sedia di pos-pos yang kesannya tersembunyi dan ditemani dengan kendaraan ukuran besar yang siap pakai. tujuan kami..."PANTAI"
ahahahaha
akhirnya tujuan tercapai, naluri ikan kami pun muncul ketika melihat hamparan langit biru dengan barisan awan-awan serta beralaskan lautan yang luas....
bukan untuk menghamburkan diri dalam gelombang ombak yang memanjakan, tapi cenderung lebih memilih menyentuh pasir pantai dengna kaki telanjang serta diawasi dengan corong kamera yang selalu standby di tangan Efan dan Putra. Naluri model menuntut kami untuk berekspresi dan bergaya bak model di tepi pantai, hanya kurang busana pantai. waktu berlalu sekejap mata, siang menjelang, kami memilih untuk kembali ke kendaraan kami untuk merencanakan mengisi lambung ukuran ekstra kami dengan beberapa makanan yang mampu memanjakannya.

(untuk sementara cerita sampai disini....maintenance...cerita panjang kehidupan...^^)

Thursday, March 26, 2009

Sendiri di Sebuah Ruko Kosong

Sudah terhitung dari Rabu minggu lalu, aku mendekam sendirian hidup sebatang kara di sebuah rumah toko (ruko) yang kini telah ditinggalkan oleh usaha warnet yang telah selama 2 tahun mendiami ruko tua penuh kerusakan ini. Tutup karena tuntutan keadaan dan tuntutan zaman yang terus berkembang, menggilas seluruh kehidupan yang tak mampu berlari jauh di depan perubahan yang berkembang setara kecepatan makhluk hidup bersel satu yang kemampuan berkembang biaknya sangat cepat. Aku tetap bertahan seorang diri sambil menunggu kepastian dari sebuah tempat baru yang telah aku rencanakan bersama sahabat-sahabat kentalku. Hidup memang selalu memberikan sebuah jalan ajaib yang sama sekali tidak pernah kita duga akan melaluinya.
Kehidupan selama hampir 1 tahun 8 bulan di lantai 2 sebuah ruko, telah banyak meninggalkan kenangan yang penuh dengan cerita-cerita bermakna aneh, unik, seru bagi hidupku. Hidupku bersama 10 komp yang selalu menerima interaksi bodohku, menerima berbagai percobaan dramatisku. Telah banyak kuhabiskan pikiran ku dan inspirasiku dalam sebuah kamar ukuran besar di bagian depan lantai 2 ruko ini. Dengan terpaksa rela kutinggalkan keluargaku, dan hanya pulang ketika kerinduan tuk tertawa dan berbahagia ini telah memuncak dan mencoba keluar dengan memecahkan ubun-ubun dan hatiku.
dan kini aku harus mengangkat bangkai dekil ku ini meninggalkan ruko yang d sana sini bocor dan mengakibatkan ketika hujan lebat mendera lantai 2 digenangi air di beberapa sudutnya, dengan meninggalkan kehidupan ku yang begitu aku cintai, menjadikannya sebuah cerita yang nantinya selalu aku buka kembali di suatu hari nanti. Di mana ketika waktu ujian, yang kulakukan hanya membuka sebuah situs komik gratis, di mana tugas yang menumpuk yang kulakukan hanya mendownload film-film bajakan yang di sediakan di sebuah situs. Di mana niat belajar kelompok yang ternyata terjadi adalah hanya permainan Counter Strike. Aku akan merindukan masa-masa itu. Tempat di mana aku menemukan sahabat-sahabat, tempat di mana aku mendapatkan musuh...ahahahahah....terlalu banyak hal yang begitu terngiang di memori otakku yang melebihi ingatan sebuah memory komputer sekalipun.
Yang kulakukan di ruko tak berpenghuni ini selalu sama, bangun dengan badan sakit-sakit karena salah tidur, kemudian makan dengan stok makanan yang tersedia, membuka laptop untuk sekedar memenuhi kesendirianku dalam waktu, tidur bertemankan komik-komik setiaku, ketika mood ku bagus....aku menghabiskan waktu hanya dengan pensil dan kertas peninggalan barang-barang stok warnet, dan ketika naluri bersih-bersih ku mencuat, aku bersedia membongkar gudang, memilah barang-barang dan sampah-sampah, mengambil apa yang masih bisa digunakan. Tapi aku sama sekali tidak menyalahkan semua keadaan ini, aku menikmatinya, aku menikamti setiap hal yang kulakukan dan kualami sendiri ini. salah satunya adalah karena aku menemukan makna teman sebenarnya berubah menjadi sahabat dalam kehidupan ku yang sekarang ini, yang selalu bersedia datang menemani, mengisi waktu kosong mereka dengan berkumpul, bercanda, menonton, atau hanya sekedar mencurahkan pikiran dalam kamar yang kujadikan tempat menyepiku, mereka tidak hanya ada pada saat aku "ada", tetapi juga di saat aku bahkan "tidak ada".
dalam kesendirian ini pun aku jadi jauh dapat menghargai arti hidupku ini, betapa aku menyayangi kehidupanku saat ini, betapa berharganya semua momen yang telah kulalui, dan apa yang harus aku lakukan kedepan nantinya, dan yang terpenting adalah, aku menghargai dan mensyukuri apa yang telah aku dapatkan, dan tidak menangisi dan mengutuki apa yang tidak aku punya. Hidup adalah rentetan keberhasilan sebuah rencana antara perpaduan cara yang kita lakukan dan caraNya yang telah digariskan.
Aku terbutakan oleh rutinitas ku selama ini, aku buta akan sekitarku, aku buta akan dunia. namun, di dalam sebuah ruko dengan beberapa lampu yang kini tak dapat menyala lagi, aku tetap dapat memaknai hidup, betapa berharganya 1 detik yang kita punya. walau dengan berbagai kemalasan khas anak seumurku yang tetap aku lakukan. dan kemandirian ku pun kembali bersinar dalam keadaan yang seperti ini. Mengatasi masalah materi, menata masalah mental, mendalami masalah akal, merasuki masalah religi.
kenapa selama ini kita selalu menjadikan kesendirian itu buruk, selalu sendiri diidentikkan dengan "suntuk", "bete", dan sebagainya. sendirian adalah sebuah momentum kita tuk mengenal diri kita, mengerti akan diri kita, mendengarkan diri kita, untuk menjadikan diri yang jauh lebih baik.
tetapi yang perlu kita ingat bersama, sendirian di sebuah ruko kosong tanpa penghuni lain, yang ada hanya cicak, tikus, nyamuk, dan kecoa, ternyata begitu menyeramkan, selalu memancing bulu kuduk ini untuk naik......teman-teman....ternyata ini sangat mengerikan....jangan pernah sengaja melakukan dan mencari keadaaan seperti ini....brrrrrr.....!!!!

Tuesday, March 10, 2009

Para Penjelajah Langit (part 1) : menempuh perjalanan langit


6 Maret 2009, tepatnya di hari jumat, dan di kala terik matahari menerpa permukaan matahari di kota pekanbaru, pukul 17.00, telah terkumpul 7 orang pemuda yang sedang menikmati libur semester ganjil dari kampus yang ternyata berbeda dari kampus lain. ketujuh pemuda yang sekampus, terdiri 6 orang yang berada pada 1 jurusan yang sama dan sekelas ditambah seorang sahabat dari jurusan berbeda, mereka hendak menempuh sebuah perjalanan yang bisa dkatakan adalah perjalanan tanpa rencana, hanya bermodalkan tujuan. dengan sebuah kendaraan milik salah satu dari mereka yang merupakan sang penggagas perjalanan mereka,sahabat Efan sang sahabat yg berbadan besar dan tegap punya keinginan kuat dan semangat yang tinggi, mereka memutuskan menempuh Sumatra Barat sebagai tujuan perjalanan mereka, Fortuner menemani ambisi mereka untuk menggunakan waktu mereka di liburan ini, Taufik "sang pilot", merupakan sahabat yang memiki jiwa yang keras dan tegas, mengendalikan si Fortuner menembus perjalanan panjang dan konyol yang dihuni pribadi2 penjelajah yang unik ini.
di hari pertama, yang merupakan "hari perjalanan menuju jalan langit", diwarnai dengan berbagai cerita dan kekonyolan yg seru.....
pernah mengalami mabok?? mabok darat???
nah, hal ini yg sungguh membuat perjalanan ini penuh warna, gocekan sang pilot ternyata berakibat fatal pada kelangsungan hidup cacing dan keluarga yg telah lama hidup di perut kami masing-masing. namun, tidak sampai memaksa kami memuntahkan makanan yang telah kami paksa masuk ke dalam lambung dan usus. bukti otentik dari kemabukan para pessanger adalah :
1. beberapa jam sebelumnya para pessanger sangat bahagia dan ceria. namun seketika berubah diam dan sunyi senyap
2. muka pucat dan mata sayu
3. duduk dengan posisi aneh
4. selalu mengeluarkan bunyi2an aneh ketika tikungan atau lonjakan
namun, yang sungguh mencengangkan adalah ketika ketujuh penjelajah ini berhenti sejenak pada pukul 21.00 untuk mengisi lambung mereka dengan seonggok karbohidrat.karena ketika lambung ketujuh penjelajah ini terisi, maka kendaraan yang mereka tumpangi seolah menjadi atraksi para badut yang mencoba mengocok perut penonton dengan ocehan dan guyonan unik khas mereka, dan kesimpulan yg dapat diambil adalah , "LAPAR MEMBUAT LAMBUNG KU MERINGIS"

tujuan perjalanan pertama mereka adalah rumah pak uo dari sahabat efan. tempat kami merembukkan tujuan mereka selanjutnya. dan menjadi tempat perlabuhan kami dari berbagai langit yg telah kami tuju.

begitu banyak hal yang bermakna dan menguak seluruh rahasia yang tersembunyi dari alam dan dari hati, sahabat putra yang selalu mencoba memecah suasana sepi menjadi rame dengan membuat kejengkelan d antara sahabat yg lain, ternyata memiliki sebuah manfaat untuk mengeluarkan sebenarnya jati diri dari dalam hati para penjelajah. sahabat putra adalah sahabat yang paling besar (berbadan besar). sahabat yg satu ini sebetulnya disiapkan sebagai bantal, namun ternyata beliau merasa tidak nyaman, karena justru dia ingin menikmati badannya seorang diri.

hari pertama diisi dengan perjalanan dan cerita unik dari kami, mulai dari kebiasaan kentut karena masuk angin, hingga menguap yang dijadikan sebagai senjata pembunuh.